https://jurnal.panah.ac.id/index.php/jawara/issue/feed Jurnal Terapi Wicara 2026-05-31T08:49:26+00:00 Hikmatun Sadiah jurnalterapiwicara@gmail.com Open Journal Systems https://jurnal.panah.ac.id/index.php/jawara/article/view/70 Pengaruh Latihan Masako Maneuver pada Peningkatan Fungsi Menelan Pasien Disfagia Pasca-Stroke: Studi Kasus Tunggal 2026-05-23T13:03:26+00:00 Ririn Kusumawati jurnalterapiwicara@gmail.com Jumiarti, A.Md. T.W., S.Pd, M.KM. aryajumi@gmail.com Junaeni junaeni@panah.ac.id Okta Rusmiati jurnalterapiwicara@gmail.com <p><strong>Latar belakang</strong>: Disfagia merupakan kondisi yang memengaruhi proses menelan normal yang menyebabkan kesulitan menelan makanan dan cairan. Kesulitan menelan menjadi kondisi yang sering terjadi dan serius pascastroke karena berisiko menyebabkan terjadinya komplikasi hingga penurunan kualitas hidup. Pemulihan fungsi menelan yang aman dan efisien dapat terhambat karena adanya kelemahan kontraksi otot faring. Studi ini dilatarbelakangi perlunya intervensi klinis dengan menggunakan Masako Maneuver untuk memperkuat kompensasi dinding faring posterior dalam meningkatkan kemampuan inisiasi refleks menelan.</p> <p><strong>Tujuan</strong>: Studi kasus ini bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatkan kecepatan refleks menelan saliva pada pasien disfagia pascastroke melalui pemberian intervensi Masako maneuver.</p> <p><strong>Metode: </strong>Penelitian menggunakan desain studi kasus tunggal dengan pendekatan <em>pre-posttest</em> design. subjek seorang pasien disfagia pascastroke yang mengalami keterlambatan refleks menelan. Data diperoleh secara prospektif melalui kegiatan praktikum klinis terstruktur di bawah supervisi klinis. Intervensi dilakukan dengan latihan menggunakan <em>Masako maneuver </em>sebanyak 10 sesi.</p> <p><strong>Hasil</strong>: Terdapat peningkatan kecepatan refleks menelan saliva hingga kurang dari 2 detik, meski respon belum stabil dan baru tercapai pada repetisi ketiga di posttest. Perbaikan kemampuan belum tercapai sepenuhnya selama periode intervensi. Hal ini menunjukkan adanya inisiasi motorik yang mulai membaik.</p> <p><strong>Kesimpulan</strong>: <em>Masako maneuver </em>memberikan dampak positif terhadap inisiasi refleks menelan saliva, meskipun stabilisasi fungsional belum tercapai sepenuhnya dalam target jangka pendek. Diperlukan intervensi yang lebih intensif untuk mencapai perbaikan kemampuan menelan pada pasien disfagia pascastroke</p> 2026-05-31T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Ririn Kusumawati, Jumiarti, Junaeni, Okta Rusmiati wicara https://jurnal.panah.ac.id/index.php/jawara/article/view/69 Gambaran Hasil Pemeriksaan Pasien Gangguan Menelan Fase Faringeal Usia 64 Tahun 2026-05-25T06:49:58+00:00 Puji Astuti pujitw98@gmail.com Dwi Ramdhani jurnalterapiwicara@gmail.com Fizar Alif Nada Al-Illahida jurnalterapiwicara@gmail.com <p><strong>Latar Belakang</strong>: Disfagia merupakan gangguan menelan yang sering terjadi pada pasien kanker nasofaring, terutama setelah menjalani kemoterapi dan radioterapi. Gangguan ini dapat memengaruhi kemampuan makan, status nutrisi, dan kualitas hidup penderita. Radioterapi pada area kepala dan leher dapat menyebabkan kerusakan jaringan dan penurunan produksi saliva sehingga proses menelan menjadi terganggu.</p> <p><strong>Tujuan</strong>: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gangguan menelan (disfagia) pada pasien dengan kanker nasofaring pascakemoterapi dan radioterapi.</p> <p><strong>Metode</strong>: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Subjek penelitian adalah seorang perempuan dengan usia 64 tahun. Pasien mengalami kanker nasofaring dan menggunakan <em>Nasogastric Tube</em> (<em>NGT</em>). Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan pemeriksaan fungsi menelan.</p> <p><strong>Hasil</strong>: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien mengalami kesulitan menelan terutama pada makanan padat setelah menjalani kemoterapi dan radioterapi. Pasien membutuhkan bantuan cairan untuk menelan makanan dan mengalami penurunan berat badan secara bertahap. Pemeriksaan menelan menunjukkan waktu menelan lebih lama serta adanya pengulangan menelan dalam satu bolus makanan. Selain itu, ditemukan kualitas suara serak, namun fungsi bahasa, motorik, dengan kondisi batas normal.</p> <p><strong>Kesimpulan</strong>: Gangguan menelan pada pasien diduga disebabkan oleh efek kanker nasofaring serta terapi kemoterapi dan radioterapi yang memengaruhi fungsi otot menelan dan produksi saliva. Disfagia yang dialami pasien berdampak pada kemampuan makan dan status nutrisi sehingga diperlukan penanganan dan rehabilitasi yang tepat.</p> 2026-05-31T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Puji Astuti, Dwi Ramdhani, Fizar Alif Nada Al-Illahida https://jurnal.panah.ac.id/index.php/jawara/article/view/67 Efektivitas Masako Manuver Untuk Meningkatkan Kemampuan Menelan Pasien Disfagia Usia 64 Tahun: Kasus Tunggal 2026-05-23T13:06:03+00:00 Junaeni junaeni@panah.ac.id Nining Lestari nining@panah.ac.id Fikram Masliandi Anggana jurnalterapiwicara@gmail.com <p><strong>Latar belakang</strong>: Gangguan menelan bisa terjadi pada orang yang mengalami <em>Limfoma Non-Hodgkin</em>, pengobatan medis yang dilakukan dengan kemoterapi atau radiasi mengakibatkan keringnya air liur (saliva). Mengalami kesulitan untuk menekan bolus menuju fase faringeal. Akibatnya adanya kesulitan untuk mengunyah dan menelan makanan serta mudah tersedak bila makan dalam bentuk solid (biscuit, nasi), makanan dalam bentuk liquid dan semi liquid lebih mudah ditelan dan tidak mengalami tersedak. Terbatasnya makanan yang masuk mengakibatkan asupan makanan kurang memadai mengakibatkan kurang gizi untuk meneruskan kelangsungan hidupnya. Serta makin banyaknya yang menderita gangguan menelan (Disfagi).</p> <p><strong>Tujuan</strong>: Penelitian ini bertujuan efektivitas <em>Masako Manuever</em> dalam meningkatkan kemampuan reflek menelan saliva selama 2 detik dengan 3 kali kesempatan.</p> <p><strong>Metode</strong>: Penelitian ini menggunakan desain ekperimen studi kasus tunggal dengan pola single-subject research. Subjek penelitian seorang perempuan usia 64 tahun pasca kemoterapi dan radiasi <em>Limpoma Non-Hodgkin</em> dengan gangguan menelan. Tahap A1(pretes) digunakan untuk mencatat kemampuan menelan saliva selama 2 detik dengan 3 kali kesempatan sebelum intervensi. Tahap B (intervensi) menggunakan <em>Masako Manuever</em> melalui 10 sesi terapi yang terstruktur, dan Tahap A2 (Posttes) dilakukan dengan menghentikan sementara intervensi untuk mengevaluasi perubahan kemampuan kemampuan menelan. Data dikumpulkan secara kuantitatif berupa persentase akurasi kemampuan menelan saliva sesuai target<em>.</em></p> <p><strong>Hasil</strong>: Hasil penelitian didapat adanya peningkatan untuk reflek menelan sebanyak 2 poin setelah dilakukan intervensi sebanyak 10 sesi terapi.</p> <p><strong>Kesimpulan</strong>: Temuan ini cukup membuktikan bahwa <em>Masako Manuever</em> cukup efektif digunakan dalam menangani dan menjadi strategi dalam menangani gangguan menelan fase faringeal paska kemoterapi dan radiasi.</p> 2026-05-31T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Junaeni, Nining Lestari, Fikram Masliandi Anggana wicara https://jurnal.panah.ac.id/index.php/jawara/article/view/66 Intervensi Penguatan Otot Bibir dan Pipi untuk Meningkatkan Efisiensi Menelan Fase Oral pada Pasien Stroke Berulang: Sebuah Studi Kasus 2026-05-26T02:25:22+00:00 Pipit Puspitasari pipit.kuliahan@gmail.com Yulidar astiyulidar@gmail.com Agustina agustina@panah.ac.id Nurul Tirta Kusuma jurnalterapiwicara@gmail.com <p><strong>Latar Belakang:</strong> <em>Disfagia Post-Stroke </em>(DPS) sering bermanifestasi sebagai disfungsi orofasial berupa kelemahan otot bibir dan pipi yang memicu <em>drooling</em> serta inefisiensi fase oral. Meskipun prevalensi globalnya tinggi, intervensi spesifik yang mengisolasi penguatan otot perioral masih sangat terbatas.</p> <p><strong>Tujuan:</strong> Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas latihan motorik otot bibir (<em>orbicularis oris</em>) dan pipi (<em>buccinator</em>) dalam meningkatkan fungsi pengunyahan, kapasitas pengendalian <em>anterior leaking/spillage</em>, serta menurunkan derajat <em>drooling</em> pada subjek DPS.</p> <p><strong>Metode:</strong> Desain pra-eksperimental <em>single-subject</em> murni (N=1) diterapkan pada subjek laki-laki berusia 63 tahun dengan stroke berulang menggunakan data klinis tahun 2019. Instrumen Penilaian Oromotor dan Kontrol Saliva (POKS) modifikasi yang diselaraskan dengan prinsip batere tes TEDIVA digunakan untuk menilai performa klinis non-radiologis menggunakan media bolus standar IDDSI Level 5. Intervensi dilakukan intensif sebanyak 10 pertemuan.</p> <p><strong>Hasil:</strong> Terjadi peningkatan skor kumulatif POKS secara signifikan dari skor 0 (disfungsi total) menjadi skor 6 (disfungsi ringan). Pasca-intervensi, subjek mampu melakukan pengunyahan fungsional (3–5 siklus) dan meningkatkan frekuensi transisi labial dari 3 kali menjadi 7 kali dalam 15 detik. Kendati demikian, rembesan saliva pada suapan ketiga tetap muncul sebagai indikator objektif adanya kelelahan otot (<em>muscle fatigue</em>) oromotor akibat penurunan daya tahan (<em>muscle endurance</em>).</p> <p><strong>Kesimpulan:</strong> Latihan terisolasi otot bibir dan pipi menunjukkan respon positif dalam memulihkan unit motorik fasial, meningkatkan koordinasi pengunyahan, serta mengurangi <em>drooling</em> secara klinis. Rekomendasi intervensi berikutnya perlu mengintegrasikan latihan ketahanan progresif untuk memperpanjang ambang lelah otot perioral</p> 2026-05-31T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Pipit Puspitasari, Yulidar, Agustina, Nurul Tirta Kusuma https://jurnal.panah.ac.id/index.php/jawara/article/view/65 Penerapan Metode Deep Pharyngeal Neuromuscular Stimulation (DPNS) Terhadap Klien Disfagia Usia 64 Tahun 2026-05-24T09:49:40+00:00 Tuti Kurniasih t.kurniasih25@gmail.com Deni Alamsyah denialamsyah@pahah.ac.id Yulidar astiyulidar@gmail.com Dias Alfian jurnalterapiwicara@gmail.com <p>Disfagia merupakan sindrom pada geriatri mempengaruhi 10% hingga 33% orang dewasa yang lebih tua, umumnya terlihat pada orang dewasa yang lebih tua yang pernah mengalami stroke atau penyakit neurogeneratif seperti penyakit Alzheimer atau Parkinson. Gangguan pada disfagia dapat menyebabkan malnutrisi terutama juga sebagai konsekuensi apabila NGT digunakan secara terus-menerus akan menimbulkan permasalahan lain. Temuan menunjukkan NGT dapat berdampak negatif pada fungsi menelan pada satu atau lebih parameter menelan, dengan tahap faring tampak paling terkena dampaknya.</p> <p><strong>Latar Belakang</strong>: dalam penelitian ini adalah klien mengalami kondisi stroke, dua bulan kemudian klien mengalami kesulitan menelan sehingga klien menggunakan NGT (<em>Nasogastric Tube</em>) untuk memenuhi makan sehari-hari. Agar klien tidak tergantung dengan NGT maka penulis perlu melakukan latihan menelan dengan metode tertentu agar mampu menelan melalui oral.</p> <p><strong>Tujuan</strong>: Dalam Penulisan ini adalah mengetahui bagaimana penerapan Metode Deep Pharyngeal Neuromuscular terhadap klien disfagia usia 64 tahun terhadap kemampuan menelan melalui tahapan pada oral dengan kondisi stroke.</p> <p><strong>Metode</strong>: metode yang digunakan dalam penulisan ini menggunakan studi kasus deskriptif yaitu peneliti menguraikan secara terperinci bagaimana terapi yang dilakukan terhadap satu atau dua orang klien. Dalam penelitian ini hanya menggunakan satu klien dengan kondisi stroke usia 64 tahun. Metode penelitian kualitatif berupaya menyajikan gambaran yang teratur, sesuai kenyataan, dan mendalam terkait suatu fenomena individu dalam kondisi tertentu.</p> <p><strong>Hasil</strong>: Adanya wabah COVID-19 penelitian ini dihentikan, sehingga semula direncanakan pertemuan sebanyak 10-11 kali pertemuan, hanya dilakukan 4 kali pertemuan. Klien hanya mampu meningkatkan repetisi menelan saliva semula 3 kali menjadi 5 kali repetisi.</p> 2026-05-31T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 Tuti Kurniasih, Deni Alamsyah, Yulidar, Dias Alfian