Systematic Literature Review Keparahan dan Jenis Gangguan Suara Pada Pasien dengan Laringitis Akut dan Kronik

Penulis

  • Junaeni Politeknik Arutala Johana Hendarto
  • Hikmatun Sadiah Kolegium Terapi Wicara Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.59898/jawara.v3i1.49

Kata Kunci:

laryngitis akut; laryngitis kronis; Gangguan Suara; Disfonia; Terapi Wicara.

Abstrak

Latar Belakang: Laringitis baik akut maupun kronik, merupakan salah satu penyebab utama disfonia yang berdampak signifikan terhadap fungsi vokal dan kualitas hidup individu. Perbedaan karakteristik klinis, tingkat keparahan, serta tipologi gangguan suara pada kedua bentuk laringitis masih menjadi perhatian penting dalam praktik terapi wicara dan penelitian klinis.

Tujuan:Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara komprehensif literatur terkait tingkat keparahan dan jenis gangguan suara pada pasien dengan laringitis akut dan kronik serta implikasinya terhadap kualitas hidup

Metode: Metode Systematic Literature Review dilakukan menggunakan panduan PRISMA melakukan analisis kualitatif dilakukan terhadap sekitar 200 studi yang diperoleh dari berbagai basis data (SciSpace, PubMed, dan Google Scholar) dengan periode publikasi 2015–2025. Seleksi dilakukan menggunakan kriteria inklusi berupa penelitian dengan penilaian keparahan disfonia (GRBAS, DSI, videostroboskopi) dan instrumen kualitas hidup (VHI, V-RQOL). Data dibandingkan berdasarkan karakteristik populasi, metode asesmen, dan jenis laringitis.

Hasil: Sebanyak lebih dari 30 studi menggunakan parameter persepsual dan akustik (GRBAS, DSI) yang secara konsisten menunjukkan perbedaan antara laringitis akut dan kronik. Disfonia organik menunjukkan skor keparahan yang lebih tinggi dibandingkan disfonia fungsional. Laringitis kronik diklasifikasikan ke dalam bentuk kataral, hipertrofik, atrofi, dan polipoid, sering disertai lesi pita suara jinak seperti nodul dan polip. Evaluasi kualitas hidup menunjukkan penurunan bermakna pada domain fisik, emosional, dan sosial, terutama pada pengguna suara profesional dan populasi lansia. Keparahan disfonia berkorelasi positif dengan penurunan kualitas hidup, peningkatan kecemasan sosial, serta gejala depresi.

Kesimpulan: Laringitis akut dan kronik menimbulkan gangguan suara dengan tingkat keparahan dan dampak psikososial yang berbeda. Penilaian multimodal yang mencakup aspek klinis, akustik, dan persepsi pasien sangat penting untuk menentukan strategi rehabilitasi vokal yang efektif. Temuan ini menegaskan perlunya pendekatan terapi yang komprehensif dan berkelanjutan bagi pasien dengan gangguan suara akibat laringitis.

Unduhan

Diterbitkan

2025-05-20