Intervensi penguatan otot bibir dan pipi untuk meningkatkan efisiensi fase oral pada pasien stroke berulang

Sebuah studi kasus

Penulis

  • Pipit Puspitasari Politeknik Arutala Johana Hendarto
  • Yulidar Politeknik Arutala Johana Hendarto
  • Agustina Politeknik Arutala Johana Hendarto
  • Nurul Tirta Kusuma Politeknik Arutala Johana Hendarto

DOI:

https://doi.org/10.59898/jawara.v4i1.66

Kata Kunci:

Disfagia Post-Stroke, Drooling, Anterior Leaking/Spillage, Latihan Motorik Oral, Residu Bukal

Abstrak

Latar Belakang: Post Stroke Dysphagia (PSD) atau disfagia pasca stroke sering bermanifestasi sebagai disfungsi orofasial, dimana kelemahan otot bibir dan pipi menjadi kontributor utama terjadinya drooling (kebocoran saliva) dan inefisiensi fase oral. Meskipun berdampak signifikan terhadap kualitas hidup, intervensi yang secara spesifik mengisolasi penguatan otot perioral sebagai parameter luaran utama masih terbatas.

Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas latihan motorik oral yang terfokus pada otot bibir (orbicularis oris) dan pipi (buccinator) dalam meningkatkan fungsi pengunyahan serta menurunkan derajat drooling pada subjek PSD.

Metode: Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimental one-group pretest-posttest pada subjek laki-laki berusia 63 tahun dengan diagnosis stroke berulang yang mengalami hilangnya kemampuan bicara fungsional total disertai drooling berat. Instrumen Penilaian Oromotor dan Kontrol Saliva (POKS) yang dimodifikasi digunakan untuk mengukur aktivitas mandibula, kontrol labial, dan efisiensi pembersihan oral menggunakan bolus standar IDDSI Level 5 (partikel 4mm). Intervensi dilakukan sebanyak 10 pertemuan meliputi latihan koordinasi vokal /e/-/o/, stabilisasi durasi penutupan bibir hingga 15 detik, dan latihan penguatan dengan resistensi mekanis menggunakan spatel kayu.

Hasil: Menunjukkan peningkatan skor kumulatif POKS yang signifikan, dari skor 0 (pre-test: disfungsi total) menjadi skor 6 (post-test: disfungsi ringan). Pasca-intervensi, subjek mampu melakukan pengunyahan fungsional (3–5 siklus) dan meningkatkan frekuensi transisi labial dari 3 kali menjadi 7 kali dalam 15 detik. Meskipun demikian, masih ditemukan rembesan saliva pada suapan ketiga sebagai indikasi adanya faktor kelelahan otot (muscle fatigue) oromotor.

Kesimpulan: Latihan otot bibir dan pipi secara progresif terbukti efektif dalam memulihkan kembali unit motorik fasial, meningkatkan koordinasi pengunyahan, serta mengurangi derajat drooling secara klinis. Temuan ini menegaskan pentingnya intervensi fungsional yang terarah dalam tatalaksana disfagia fase oral pasca stroke.

Unduhan

Diterbitkan

2026-05-31